Salah satu kekeliruan besar dalam menilai kondisi masjid hari ini adalah mengukur “hidupnya masjid” hanya dengan keramaian. Banyak orang merasa bangga ketika masjid penuh saat shalat Jumat, tarawih Ramadhan, tabligh akbar, atau kegiatan sosial tertentu.
Keramaian itu memang menggembirakan dan patut disyukuri. Namun Islam mengajarkan bahwa ukuran kehidupan masjid bukan sekadar jumlah massa, melainkan kualitas iman yang tumbuh dari masjid itu sendiri.
Masjid yang ramai belum tentu hidup. Bahkan kadang masjid bisa sangat ramai, tetapi ruhnya lemah, karena ia tidak melahirkan perubahan yang berkelanjutan pada jamaah.
Ramai Karena Acara, Tapi Sepi Jamaah
Fenomena yang sering kita saksikan adalah masjid ramai ketika ada acara. Jika ada penceramah terkenal, masjid penuh. Jika ada lomba atau santunan, jamaah berdatangan. Jika ada momen politik atau seremoni tertentu, masjid menjadi pusat perhatian. Tetapi ketika acara selesai, masjid kembali sepi.
Ini menunjukkan bahwa sebagian umat datang bukan karena keterikatan ruhiyah kepada masjid, melainkan karena keterikatan emosional kepada event.
Padahal masjid pada masa Rasulullah ﷺ hidup bukan karena acara besar, tetapi karena ibadah yang konsisten dan tarbiyah yang terus berjalan. Allah ﷻ menyebutkan ciri orang yang memakmurkan masjid bukan sekadar “datang sesekali”, tetapi mereka yang istiqamah:
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ
“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, menegakkan shalat, dan menunaikan zakat.” (QS. At-Taubah: 18)
Imam Ibn Kathir رحمه الله menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan kemakmuran masjid adalah buah dari iman yang nyata, yang terwujud dalam shalat dan amal. Jadi ukuran utama bukan keramaian sesaat, melainkan kesinambungan ibadah.
Ramai Karena Pasar Ramadhan, Tapi Kosong Setelahnya
Ramadhan adalah bulan berkah. Masjid penuh tarawih, tadarus, ifthar, dan berbagai program kebaikan. Namun persoalan muncul ketika Ramadhan selesai: masjid kembali lengang, seolah-olah pintu kebaikan ikut tertutup bersama berakhirnya bulan suci.
Ini bukan berarti Ramadhan tidak bermanfaat, tetapi menunjukkan bahwa masjid belum berhasil menjadi pusat pembinaan jangka panjang. Masjid menjadi “musiman”, bukan “sepanjang hayat”.
Padahal Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang terus-menerus walau kecil:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinu meskipun sedikit.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)
Imam an-Nawawi رحمه الله menjelaskan bahwa hadits ini adalah kaidah besar dalam tarbiyah ruhani: keberkahan iman ada pada istiqamah, bukan pada ledakan semangat sesaat.
Maka masjid yang hidup adalah masjid yang mampu menjaga semangat Ramadhan menjadi kebiasaan sepanjang tahun.
Ramai Karena Pengajian Besar, Tapi Tidak Ada Halaqah Rutin
Pengajian akbar adalah kebaikan, tetapi ia tidak boleh menggantikan halaqah rutin. Banyak masjid sukses mengadakan kajian besar, tetapi tidak memiliki sistem pembinaan yang teratur: halaqah Al-Qur’an, kelas fiqih dasar, kajian akhlak, tarbiyah pemuda, atau pembinaan keluarga.
Akibatnya jamaah hanya menjadi “pendengar”, bukan “pembelajar”. Mereka datang untuk mendengar, tetapi tidak dibina untuk berubah.
Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ
“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah, membaca Kitab Allah dan mempelajarinya bersama, kecuali turun kepada mereka ketenangan.”
(HR. Muslim)
Kata يَتَدَارَسُونَهُ (mempelajarinya bersama) menunjukkan proses yang berulang dan berkesinambungan. Inilah ruh halaqah: pembinaan bertahap, bukan sekadar pertemuan besar.
Contoh Nyata: Tarawih Penuh, Subuh Kosong
Inilah gambaran paling nyata: tarawih penuh, tetapi Subuh kosong. Masjid megah, tetapi tidak melahirkan kader. Ramai sekali setahun, lalu sepi sepanjang tahun.
Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa shalat Subuh dan Isya adalah ukuran kesungguhan:
إِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ
“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya dan shalat Subuh.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadits ini bukan untuk menuduh jamaah, tetapi untuk mengingatkan bahwa hidupnya masjid diukur dari ibadah yang berat namun istiqamah.
Ukuran Hidup Bukan Jumlah Massa
Masjid hidup bukan karena penuh sesaat, tetapi karena ia melahirkan manusia yang istiqamah, berilmu, dan berakhlak. Masjid hidup ketika ia melahirkan kader dakwah, membina pemuda, menguatkan keluarga, dan menyatukan umat.
Keramaian adalah tanda, tetapi bukan ukuran. Ukuran sejati masjid hidup adalah ketika ia menjadi pusat pembentukan manusia.






