Hal-Hal yang Merusak Pahala Ramadhan

by -11576 Views
Foto ilustrasi: santri Amanatul Musthofa sedang belajar.

Ramadhan adalah bulan yang penuh rahmat, maghfirah, dan pembebasan dari api neraka. Namun perlu disadari dengan jujur: tidak semua orang yang berpuasa akan memperoleh pahala puasa secara sempurna. 

Sebab ada musuh-musuh Ramadhan yang sering tidak disadari—musuh yang tidak membatalkan puasa secara fiqih, tetapi membatalkan nilai dan merusak pahala secara ruhiyah.

Rasulullah ﷺ telah mengingatkan dengan tegas namun penuh kasih:

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan haus.”
(HR. Ibn Majah)

Hadits ini adalah peringatan bahwa puasa bukan sekadar menahan perut, melainkan menahan seluruh anggota tubuh dari dosa. Tarhib Ramadhan tidak hanya berarti menyiapkan amal, tetapi juga menyiapkan benteng agar pahala tidak bocor.

Ghibah, Fitnah, dan Adu Domba

Musuh terbesar Ramadhan adalah dosa lisan. Betapa banyak orang rajin tarawih namun lisannya melukai saudaranya. Allah ﷻ berfirman:

وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ

“Dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kalian memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kalian merasa jijik.”
(QS. Al-Hujurat: 12)

Ayat ini bukan hanya larangan, tetapi gambaran menjijikkan agar seorang mukmin takut kepada ghibah. Dalam konteks ukhuwah, ghibah adalah racun yang menghancurkan persatuan umat.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. al-Bukhari)

Hadits ini sangat jelas: puasa tanpa menjaga lisan adalah puasa yang kehilangan ruh.

Maksiat Digital: Tontonan Haram dan Scrolling Sia-sia

Di zaman ini, musuh Ramadhan tidak hanya di pasar atau jalanan, tetapi di layar kecil yang kita genggam. Maksiat digital adalah pintu besar yang menguras pahala: tontonan haram, konten vulgar, musik yang melalaikan, debat panas di media sosial, hingga scrolling tanpa tujuan.

Allah ﷻ berfirman:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ

“Katakanlah kepada orang-orang beriman agar mereka menundukkan pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka.” (QS. An-Nur: 30)

Ramadhan seharusnya menjadi bulan menundukkan pandangan, bukan bulan memperbanyak tontonan. Jika mata dibiarkan liar, hati akan mengeras, dan tilawah menjadi berat.

Berlebihan Saat Berbuka

Sebagian orang menahan lapar seharian, lalu berbuka dengan berlebihan. Akhirnya shalat Isya berat, tarawih mengantuk, dan malam Ramadhan berlalu tanpa ruh.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ

“Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk daripada perutnya.”
(HR. at-Tirmidzi)

Islam tidak melarang makan enak, tetapi melarang berlebihan. Ramadhan bukan bulan pesta makanan, melainkan bulan menundukkan nafsu.

Malas Shalat Subuh karena Begadang

Musuh Ramadhan berikutnya adalah begadang tanpa manfaat: nongkrong sampai sahur, main game, menonton, lalu Subuh tertinggal atau dilakukan tanpa ruh. Padahal shalat Subuh adalah ukuran kejujuran iman.

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

“Sesungguhnya bacaan (shalat) fajar itu disaksikan (oleh malaikat).”
(QS. Al-Isra: 78)

Maka sungguh merugi orang yang rajin tarawih namun kehilangan Subuh. Ramadhan bukan hanya malam, tetapi juga fajar.

Riya dalam Ibadah

Riya adalah musuh yang paling halus. Ia membuat amal tampak indah di mata manusia namun kosong di sisi Allah. Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكَ الْأَصْغَرُ … الرِّيَاءُ

“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil… yaitu riya.”
(HR. Ahmad)

Riya bisa masuk melalui sedekah yang diumumkan, foto ifthar untuk dipamerkan, atau tilawah yang ingin dipuji. Obatnya adalah memperbanyak amal tersembunyi dan memperbaiki niat setiap hari.

Ramadhan Jadi Rutinitas Tanpa Ruh

Musuh terakhir dan paling berbahaya adalah ketika Ramadhan hanya menjadi rutinitas tahunan. Puasa dilakukan karena tradisi, tarawih dilakukan karena kebiasaan, dan Al-Qur’an dibaca tanpa tadabbur. Padahal Allah ﷻ berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا * وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9–10)

Ramadhan adalah kesempatan menyucikan jiwa. Jika ia berlalu tanpa perubahan, maka itu tanda bahwa ruh Ramadhan belum masuk ke hati.

Penutup

Tarhib Ramadhan bukan hanya menyambut tamu agung, tetapi juga menjaga agar tamu itu tidak pergi tanpa meninggalkan keberkahan. Musuh-musuh Ramadhan—ghibah, maksiat digital, makan berlebihan, meninggalkan Subuh, riya, dan rutinitas tanpa ruh—semuanya dapat menghapus cahaya bulan suci ini. 

Maka mari kita menyambut Ramadhan dengan lembut namun tegas: menjaga lisan, mata, hati, dan waktu. Sebab Ramadhan yang sukses bukan hanya yang penuh aktivitas, tetapi yang penuh keikhlasan dan perubahan nyata.

banner 600x200

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.