Tarhib Sosial – Ramadhan dan Kepedulian Ummat

by -11890 Views
Foto ilustrasi: santri Amanatul Musthofa sedang kegiatan belajar.

Salah satu kekeliruan yang sering terjadi dalam memahami Ramadhan adalah memandangnya sebagai ibadah individualistik: saya berpuasa, saya tarawih, saya tadarus, saya memperbanyak doa. Semua itu benar dan sangat mulia. 

Namun Ramadhan dalam Islam bukan sekadar pembinaan personal, melainkan juga momentum pembinaan sosial. Ia adalah bulan yang membangun umat dari dalam: menumbuhkan empati, menghidupkan solidaritas, serta memperkuat ukhuwah. 

Karena itu, tarhib Ramadhan tidak akan sempurna tanpa tarhib sosial—menyiapkan diri untuk menjadi pribadi yang peduli kepada sesama.

Allah ﷻ menegaskan bahwa tujuan ibadah bukan hanya kesalehan ritual, tetapi kesalehan sosial. Dalam ayat yang sangat masyhur, Allah berfirman:

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ…

“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajah ke timur dan barat, tetapi kebajikan ialah orang yang beriman kepada Allah… dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin…” (QS. Al-Baqarah: 177)

Ayat ini menunjukkan bahwa iman yang benar melahirkan kepedulian. Maka Ramadhan harus melahirkan perubahan sosial, bukan sekadar peningkatan ibadah personal.

Puasa Melatih Empati kepada Fakir Miskin

Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi merasakan lapar. Dari pengalaman lapar itulah muncul empati. Seorang yang kenyang setiap hari mungkin sulit memahami penderitaan orang miskin. 

Namun ketika ia menahan diri dari makan dan minum sejak fajar, ia mulai merasakan betapa beratnya hidup mereka yang tidak punya makanan bahkan ketika berbuka.

Inilah hikmah besar puasa. Imam al-Ghazali رحمه الله menjelaskan bahwa puasa melemahkan syahwat dan menumbuhkan kasih sayang terhadap kaum dhuafa, sebab seseorang baru benar-benar memahami nikmat ketika ia kehilangan sementara.

Dengan demikian, tarhib sosial berarti menyiapkan hati agar Ramadhan menjadi bulan kepedulian, bukan bulan konsumsi berlebihan.

Sedekah: Amalan yang Pahalanya Dilipatgandakan

Ramadhan adalah musim sedekah. Allah ﷻ berfirman:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ

“Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Dan Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Baqarah: 261)

Ayat ini menjadi dasar bahwa sedekah tidak mengurangi harta, bahkan menumbuhkannya dalam pahala. Ramadhan adalah bulan di mana amal dilipatgandakan, sehingga sedekah menjadi investasi akhirat yang luar biasa.

Rasulullah ﷺ sendiri adalah teladan tertinggi. Dalam hadits sahih disebutkan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ

“Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan.” (HR. al-Bukhari)

Memberi Makan Orang Berbuka

Salah satu amalan sosial yang sangat dianjurkan di Ramadhan adalah memberi makan orang yang berpuasa. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Barangsiapa memberi makan orang yang berpuasa untuk berbuka, maka baginya pahala seperti pahala orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi pahala orang tersebut sedikit pun.” (HR. at-Tirmidzi)

Hadits ini adalah motivasi luar biasa. Betapa banyak pahala dapat diraih dengan amalan sederhana: memberi segelas air, sebutir kurma, atau sepiring nasi.

Di sinilah Ramadhan mengajarkan bahwa kebaikan bukan monopoli orang kaya. Siapa pun bisa menjadi sebab orang lain berbuka.

Menjaga Ukhuwah: Hindari Debat dan Permusuhan

Tarhib sosial juga berarti menyiapkan diri untuk menjaga ukhuwah. Ramadhan bukan bulan pertengkaran, bukan bulan saling menyalahkan, dan bukan bulan debat tanpa manfaat.

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ

“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah antara dua saudaramu.” (QS. Al-Hujurat: 10)

Dalam konteks dakwah, persatuan (wihdah) adalah kebutuhan umat. Tidak mungkin umat bangkit jika energi habis untuk saling mencela. Perbedaan fiqih harus disikapi dengan ilmu dan adab, bukan dengan fanatisme.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثٍ

“Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Ramadhan sebagai Momentum Memperbaiki Umat

Ramadhan adalah bulan perbaikan total: individu, keluarga, dan masyarakat. Ia harus melahirkan pribadi yang lebih peduli, lebih lembut, dan lebih berkontribusi. 

Bahkan dalam sejarah Islam, Ramadhan adalah bulan kemenangan dan perubahan sosial besar.

Maka tarhib sosial mengajarkan bahwa puasa tidak boleh menjadikan seseorang egois. Justru orang yang berpuasa harus semakin merasakan penderitaan umat: fakir miskin, yatim, korban bencana, dan mereka yang terzalimi.

Penutup

Tarhib sosial menegaskan bahwa Ramadhan bukan ibadah individualistik. Puasa melahirkan empati, sedekah memperkuat solidaritas, memberi makan orang berbuka menumbuhkan cinta, dan menjaga ukhuwah menguatkan barisan umat. 

Jika Ramadhan dijalani dengan kesadaran sosial, maka Ramadhan benar-benar menjadi bulan kebangkitan—bukan hanya kebangkitan pribadi, tetapi kebangkitan umat seluruhnya.

banner 600x200

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.