Tarhib Keluarga – Membangun Atmosfer Ramadhan di Rumah

by -12047 Views
Foto ilustrasi: santri Amanatul Musthofa sedang kegiatan belajar.

Salah satu indikator keberhasilan tarhib Ramadhan adalah ketika suasana Ramadhan tidak berhenti pada mimbar masjid dan majelis kajian, tetapi masuk ke ruang keluarga: ruang makan, ruang tamu, bahkan kamar anak-anak. Ramadhan bukan hanya bulan ibadah personal, melainkan bulan pembentukan generasi. 

Karena itu, tarhib yang paling strategis adalah tarhib keluarga—membangun atmosfer Ramadhan di rumah agar setiap anggota keluarga merasakan bahwa Ramadhan adalah tamu agung yang dimuliakan.

Allah ﷻ menegaskan tanggung jawab pendidikan keluarga dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
(QS. At-Tahrim: 6)

Ayat ini, sebagaimana dijelaskan oleh Imam al-Qurthubi رحمه الله, menunjukkan kewajiban seorang kepala keluarga untuk membimbing istri dan anak-anak dalam ketaatan, ilmu, dan akhlak. Maka Ramadhan adalah momentum emas untuk menjalankan amanah tersebut secara intensif.

Ramadhan sebagai Madrasah Keluarga

Dalam perspektif tarbiyah Islam, keluarga adalah madrasah pertama. Jika Ramadhan hanya dipahami sebagai bulan “menahan lapar”, maka anak-anak akan tumbuh dengan pemahaman dangkal. Tetapi jika Ramadhan diposisikan sebagai madrasah iman, maka rumah menjadi pusat pendidikan ruhiyah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menegaskan bahwa Ramadhan bukan hanya tugas ustadz di masjid, melainkan tanggung jawab orang tua di rumah.

Peran Ayah dan Ibu dalam Tarhib

Ayah dan ibu adalah dua pilar utama tarhib keluarga. Ayah bukan hanya pencari nafkah, tetapi juga pemimpin spiritual. Sedangkan ibu bukan hanya pengatur rumah, tetapi pendidik hati.

Ayah hendaknya menjadi teladan dalam shalat berjamaah, tilawah, dan akhlak. Ibu menjadi teladan dalam kelembutan, kesabaran, serta menciptakan suasana rumah yang penuh dzikir dan ketenangan. Bila kedua orang tua kompak, anak-anak akan mencintai Ramadhan tanpa paksaan.

Allah ﷻ berfirman:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا

“Perintahkanlah keluargamu untuk melaksanakan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya.”
(QS. Thaha: 132)

Ayat ini mengandung makna penting: membimbing keluarga memerlukan kesabaran, bukan kemarahan. Ramadhan adalah saat terbaik untuk membangun budaya shalat, bukan dengan tekanan, tetapi dengan teladan dan kasih sayang.

Mengajak Anak Mencintai Puasa

Anak-anak tidak perlu dipaksa berpuasa penuh sejak kecil, tetapi mereka perlu dikenalkan dengan cinta terhadap ibadah. Para ulama menjelaskan bahwa anak dibiasakan berpuasa secara bertahap sesuai kemampuan, sebagaimana sahabat dahulu melatih anak-anak mereka dengan cara lembut.

Dalam riwayat disebutkan bahwa para sahabat memberikan mainan kepada anak-anak agar mereka kuat menjalani puasa hingga waktu berbuka (HR. al-Bukhari). Ini menunjukkan metode pendidikan yang bijak: membangun ketahanan sekaligus menjaga kegembiraan.

Maka anak harus merasakan bahwa puasa bukan hukuman, tetapi kehormatan. Orang tua dapat menanamkan makna: “Kita berpuasa karena Allah mencintai orang yang sabar.”

Membuat Tradisi Baik: Buka Bersama, Sedekah, dan Qiyam

Tradisi Ramadhan dalam keluarga dapat menjadi amal yang terus dikenang. Di antaranya:

Buka bersama keluarga

Berbuka bukan sekadar makan, tetapi momen syukur dan kebersamaan. Rasulullah ﷺ bersabda:

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ

“Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan: bahagia saat berbuka dan bahagia saat bertemu Rabb-nya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Maka berbuka bersama keluarga harus dijadikan momen doa, bukan momen gaduh dan lalai.

Sedekah keluarga

Libatkan anak-anak dalam sedekah. Misalnya, sediakan kotak infak Ramadhan. Ajarkan bahwa berbagi adalah ruh Ramadhan. Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ

“Barangsiapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti pahala orang itu.”
(HR. at-Tirmidzi)

Qiyamul lail keluarga

Tidak harus lama. Dua rakaat bersama anak-anak sebelum tidur sudah cukup untuk menanamkan cinta qiyam.

Mengurangi Tontonan dan Gadget

Ramadhan adalah bulan membersihkan hati. Maka mengurangi tontonan sia-sia adalah bagian dari tarhib. Imam Ibn al-Jawzi رحمه الله berkata bahwa hati seperti bejana: jika dipenuhi hal sia-sia, sulit diisi cahaya iman.

Gadget bukan haram, tetapi jika menghabiskan waktu Ramadhan, maka ia merampas keberkahan. Rumah yang ingin hidup dengan Ramadhan harus berani membuat aturan: waktu tanpa layar, waktu tadarus, waktu ngobrol keluarga.

Lampiran: Ide Kegiatan Ramadhan untuk Anak

  1. Kalender Ramadhan: tempel target harian (shalat, puasa, sedekah).
  2. Misi kebaikan: “hari ini bantu ibu”, “hari ini sedekah”.
  3. Cerita Nabi sebelum tidur: kisah Ramadhan dan sahabat.
  4. Tabungan sedekah: anak menabung untuk infak Idul Fitri.
  5. Lomba hafalan pendek: 1 surat tiap 3 hari.
  6. Membuat kartu ucapan Ramadhan untuk tetangga/kerabat.
  7. Mengantar makanan berbuka ke rumah tetangga sebagai latihan ukhuwah.

Penutup

Tarhib keluarga adalah pondasi tarhib umat. Rumah yang hidup dengan Ramadhan akan melahirkan generasi yang mencintai Al-Qur’an, shalat, sedekah, dan persaudaraan. 

Jika Ramadhan berhasil dibangun dalam keluarga, maka ukhuwah di masyarakat akan semakin kokoh, dan kebangkitan umat akan dimulai dari tempat yang paling kecil namun paling menentukan: rumah kita sendiri.

banner 600x200

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.